Pengalaman Sekolah Dari SD, SMP Hingga SMK

Pengalaman Sekolah Dari SD, SMP Hingga SMK

Pengalaman Sekolah – Bismillahirrohmaanirrohiim, Assalamu’alaikum wr wb. Hay sobat perkenalkan nama saya adalah Muhammad Reza Ichsani, Lahir di Kota Jember pada 08 Februari 1998. Nah pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan sedikit kisah atau pengalaman mengenai masa-masa sekolah saya dari SD, SMP hingga SMK. Tentunya kisah yang saya tulis ini yang saya ingat saja. Postingan ini adalah postingan kedua saya di website Vazame ini. Karena sebelumnya saya sudah menuliskan cerita perjalanan menuju Pesantren Sintesa, tapi karena nggak bagus jadi saya draft saja hehe.

Sebenarnya postingan dengan judul “Pengalaman Sekolah dari SD, SMP Hingga SMK” ini merupakan tugas yang diberikan oleh Guru-Guru kami di Pesantren Sintesa untuk melatih kekreativitasan kami dalam menulis. Beliau menyuruh kami untuk menuliskan pengalaman kami pada website masing-masing. Nah karena saya sendiri bingung mau nulis tentang pengalaman “Apa?” jadinya saya nulis apa saja yang ada di pikiran saya. Yaps Pengalaman Sekolah Dari SD Hingga SMK ini akan mengawali perjalanan saya kedepannya dalam belajar menulis artikel yang baik dan benar. Siapa tau suatu hari nanti bisa jadi penulis best seller, kan lumayan juga bisa terkenal gitu, kayak Bang Tere Liye, Kang Abik, dan Penulis buku terkenal lainnya hehe.

Baiklah mungkin saya cukupkan sampai disini basa-basinya, biar nggak bosan juga yang baca. Baiklah sobat Vazame, berikut ini adalah kisah perjalanan saya dalam menempuh pendidikan mulai dari SD (Sekolah Dasar, SMP (Sekolah Menengah Pertama) hingga SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Pengalaman Ketika Masih Sekolah Dasar (SD)

sumber : compu.ibmdatamanagement.co (bukan foto saya)

Pengalaman Saat SD – Waktu itu kurang lebih usia saya masih sekitar 5 tahunan. Dan saya waktu itu termasuk anak yang cengeng, ya wajar sih kan masih umur segitu. Saya dan keluarga saya waktu itu tinggal di Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari Jember. Setiap pagi Kakak saya yang bernama Arifatus Sholehah, dengan senang hati selalu mengantar saya ke sekolah. Jarak sekolah dari rumah yang kami tinggali kala itu sangat dekat. Kurang lebih sekitar 200 meter saja, melewati sungai yang setiap harinya bergemericik seperti menyanyikan sesuatu yang saya tidak mengerti maksudnya.

Saat pertama kali masuk sekolah saya selalu ditemani oleh Kakak saya, baik saat pelajaran, istirahat dan segala jenis aktivitas yang saya lalui selalu ditemani oleh Kakak saya. Hal itu Kakak saya lakukan bukan karena dia khawatir saya ada yang nyuri, melainkan sedetikpun saya akan menangis jika harus di tinggalkan hehe. Misalnya saat pertama kali penerimaan siswa baru, saat setiap siswa disuruh maju untuk memperkenalkan diri saya juga mengajak kakak saya, saat menulis pelajaran saya juga mengajak Kakak saya. Bahkan saat semua Ibu dari siswa-siswa lainnya menunggu sang buah hatinya dari luar, Kakak saya dengan senang hati menemani saya didalam kelas. Hal itu dia lakukan karena jika dia meninggalkan saya, pasti saya akan menangis.

Beruntung sekali saya waktu itu, walaupun sifat saya yang nangisan dan selalu merepotkan, saya memiliki Kakak yang sangat sabar dalam menemani saya dalam proses belajar. Juga Guru saya di SD itu yang bernama Bu Farida yang sangat sabar dalam menangani saya, yang Ibu saya sendiri saja sudah angkat tangan dalam mengurus saya hehe. Tapi itu Ibu saya lakukan bukan karena dia nggak sayang dengan saya, melainkan karena dirumah dia banyak yang harus di urusin, jadi urusan saya beliau serahkan kepada Kakak saya dan Guru saya.

Waktu terus berlalu, tanda-tanda lelah Kakak saya sudah mulai muncul, kala itu saya semakin merepotkan. Walaupun waktu itu yang sekolah saya, tapi yang menjadi siswa rasanya adalah kakak saya sendiri. Karena setiap menulis, yang menulis adalah kakak saya, saat disuruh maju kedepan, eh saya malah nangis. Hingga beberapa minggu kemudian Ibu saya memutuskan untuk memberhentikan saya dari sekolah. Karena mungkin belum cukup umur, akhirnya saya berhenti sekolah, dan pada waktu yang sama, keluarga saya pindah ke Desa Bangsalsari, di Dusun Rambutan Selatan. Nggak jauh sih jarak antara rumah yang dulu dengan rumah yang sekarang, hanya berjarak kurang lebih 5 Kilometer saja.

Pindah Sekolah di SD Karangsono 01

Setelah beberapa bulan menempati rumah baru kami, akhirnya Ibu saya menyekolahkan saya disebuah SD di dekat desa saya. Nama sekolahannya dulu hingga saat ini masih sama, yakni SDN Karangsono 01 yang berlokasi di Desa Karangsono. Sebelum saya pindah sekolah, Guru saya yang bernama Bu Farida bertanya kepada Ibu saya kenapa akhir-akhir ini saya nggak pernah sekolah. Akhirnya Ibu saya menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.

Waktu itu umur saya kurang lebih umur 6 tahun, sudah memadailah untuk mengikuti pelajaran kelas 1 Sekolah Dasar. Akhirnya pada pendaftaran murid baru, Ibu saya mendaftarkan saya pada SD tersebut. Alhamdulillah setelah beberapa hari kemudian menjadi siswa SD lagi, Ibu saya hanya mengantarkan saya selama beberapa hari saja. Hari-hari sesudahnya saya sudah berani berangkat sekolah sendiri, menulis sendiri, maju memperkenalkan diri sendiri, dan segala aktifitas lainnya sudah bisa saya lakukan dengan sendiri.

Waktu itu saya merupakan murid yang disukai oleh guru saya, terutama Bu Farida, guru kelas satu SD saya. Bukan karena saya cakep, tapi karena saya selalu mengikuti apa yang diperintahkan, atau bahasa jawanya manut. Karena saya merupakan siswa yang penakut jadi ya ngikutin saja apa – apa yang disuruh oleh Guru saya. Tapi selain manut, saya juga mempunyai jiwa petarung wkwk. Saat kelas 1 Sekolah Dasar, saya selalu berantem dengan teman saya yang bernama Zain, nama lengkapnya saya lupa dan saya nggak mau ingat hehe. Hampir setiap hari saya dengannya selalu berantem, tapi Bu Farida selalu mengetahui siapa yang selalu bikin ulah, yah si Zain adalah satu-satunya siswa yang paling nakal saat itu, tidak ada siswa lainnya yang berani bertarung dengannya, hanya saya saja. Dan tentunya hal itu menjadi sebuah keberuntungan bagi si Zain, karena semua teman-teman lainnya lebih menakuti dirinya, akhirnya dia lebih mempunyai banyak geng, dan bermaksud mengeroyok saya. Jadi ya gitu, akhir-akhirnya walaupun saya yang bener nggak ada yang berani membela saya, teman-teman cenderung malah diam dan membela si Zain. Nah itulah salah satu yang membuat saya males mengingat nama lengkapnya hehe, nggak bercanda kok lagian itu kan masih kecil untuk apa dipermasalahkan. Nah mungkin dari sini saja untuk cerita masa-masa Sekolah Dasar saya.

Pengalaman Ketika Sekolah Menengah Pertama

Foto Sekolah Saya

Tepatnya saya lupa pada tahun berapa dan berapa umur saya saat itu ketika sedang belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saya sekolah di Yayasan Ma’arif NU, sebuah sekolah SMP yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pesantrean Asy-Syafi’iyah di Desa Sukorejo.

Pendaftaran

Waktu itu saya mendaftar nekat bareng temen saya yang bernama Yunus. Yunus adalah teman saya sejak SD. Di SMP saya waktu itu kelas 1 terbagi menjadi tiga kelas, yakni kelas 1 A, 1 B dan 1 C. Waktu itu saya masuk di Kelas B. Label ABC tersebut hanyalah label yang menandakan kelas terbagi tiga, bukan menandakan kelas 1 A muridnya paling pinter, B lumayan pinter, atau C yang kurang pinter. Bukan seperti itu maksudnya. Karena waktu kelas satu merupakan waktu seleksi untuk memasuki kelas Unggulan ke kelas 2 nantinya.

Singkat saja ya, soalnya sudah lebih dari 1000 kata ini saya nulisnya, nanti bukan pengalaman yang saya tulis malah Novel hehe.

Waktu kenaikan kelas dua kala itu Alhamdulillah saya mendapat peringkat 4 hehe, peringkat itu saya dapatkan bukan karena saya pinter, karena kalau melihat dari sisi kepintaran, saya nggak akan peringkat sama sekali, bahkan jika itu peringkat terakhir sekalipun. Mungkin karena waktu itu saya adalah murid yang manut saja pada peraturan dan apa-apa yang disuruh oleh Guru, waktu itu Wali Kelas saya adalah Bu Umi dari Gunungan, termasuk dalam kategori orang madura.

Naik Kelas Dua A (Unggulan)

Karena waktu itu saya mendapat peringkat 4 jadi otomatis saya ditaruh dikelas 2 A (Unggulan). Sebuah kelas yang awalnya saya benci, karena banyak sekali hal-hal dan kewajiban yang harus di lalui. Berbeda dengan kelas lainnya yang bebas mau ngapai saja. Dikelas unggulan saya waktu itu banyak sekali program tambahan, misalnya : wajib sholat dhuha berjama’ah, wajib hafalan mufrodat setiap harinya, pulang lebih siang dari kelas lainnya karena ada les tambahan. Tapi enaknya ya gitu punya label lebih pinter dari yang lain hehe.

Di kelas ini saya juga menemukan banyak sekali teman yang keren-keren dan baik, tapi dengan guru-guru yang lumayan galak, bagi saya yang sabar cuman beberapa guru saja disini, salah satunya adalah Wali Kelas saya yang bernama Bu Linda, yang sangat sabar sekali dalam mengurus kami. Sudah seperti seorang Ibu yang memperhatikan penuh Buah Hatinya. Bu Linda sangat sabar sekali dalam mendidik kami, menyemangati kami dll. Beliau juga sangat pintar dalam masalah Hadits dan Bahasa Arab, pokoknya beliau jagonya lah di Sekolah kami pada dua urusan tersebut (Hadits dan Bahasa Arab).

Setelah hari-hari kami lalui, tidak terasa sudah dekat sekali dengan kenaikan kelas 3. Dalam beberapa bulan akhirnya kami melalui fase kenaikan kelas. Alhamdulillah waktu itu saya masih bertahan di Kelas Unggulan yaitu naik di Kelas 3 A.

Naik Kelas Tiga A

Dikelas tiga ini ada beberapa siswa tambahan dari proses seleksi selama setahun di kelas dua, jadi siswa yang awalnya di kelas B dan C, memiliki kesempatan untuk masuk di kelas 3 A. Namun banyak sekali yang ogah masuk kelas 3 A ini. Tentu saja mereka males, di kelas 3 A ini tidak jauh berbeda dengan kelas 2 Unggulan, banyak program tambahannya, dituntut harus lebih pintar dari pada penghuni kelas lainnya.

Jujur saja waktu itu saya sudah males sekali menempuh pendidikan dengan sistem yang ketat, saya sudah nggak peduli dengan nilai, yang penting nanti bisa lulus sudah Alhamdulillah hehe. Jadi saya disini nggak terlalu suka belajar, cuman kerjaannya melukis, menggambar dan melamun hehe.

Setelah beberapa bulan menempuh pendidikan di kelas 3 ini, tidak terasa dalam beberapa minggu kemudian kami semua akan berperang menentukan lulus tidaknya kami. Dan Alhamdulillah walaupun saya waktu itu nggak masuk peringkat, tapi saya masih mendapatkan gelar Siswa Paling Teladan Se SMP saya hehe. Mungkin itu saja kisah di SMP.

Pengalaman Ketika Sekolah Menengah Kejuruan

Foto ketika SMK

Sekolah SMK saya tidak jauh dari sekolah SMP saya, cuman berjarak 5 meter saja. Karena SMP dan SMK saya satu Yayasan jadi nggak jauh, berdampingan malah. Di SMK ini banyak sekali cerita yang menyimpan banyak sekali kenangan, cuman nggak akan saya ceritakan hehe, privacy gaes.

Saat SMK saya mungkin satu-satunya siswa yang nggak pernah meminta uang saku kepada Orang Tua. Bukan karena saya sudah berpenghasilan tetap seperti halnya PNS, melainkan disini sudah mulai muncul rasa malu kepada Orang Tua untuk meminta uang, baik uang saku atau kebutuhan lainnya. Waktu SMK banyak yang ngira saya ini orang pinter, setiap ada masalah pasti tanya-nya ke saya, ada tugas minta bantuannya ke saya. Sampe ada teman wanita saya ketika ditempatkan PSG bareng saya dia langsung bersyukur bisa ditempatkan dengan saya, eh ini pertanda kurang baik bagi saya, untung dia nggak jadi dibarengkan dengan saya wkwk.

Di SMK ini saya sering sekali dimintai bantuan oleh Guru saya, salah satunya adalah Bu Mamik, ya Alhamdulillah setiap selesai bantuin selalu ada komisinya, baik itu traktiran makan atau dikasih uang jajan. Ya cukup besar lah uang jajannya. Karena saya sering sekali dimintai bantuan oleh guru saya dan sering ditraktir, sampe ada temen saya yang curiga nih, dia sampe ngiri juga dengan saya. Padahal saya sendiri juga agak kerepotan disuruh bantuin, salah satunya harus mengorbankan waktu main, mengorbankan waktu tidur, waktu santay, dan lainnya.

Selain ditraktir oleh Guru saya, Alhamdulillah ada beberapa teman saya juga yang sering nraktir saya. Karena waktu itu dia sering sekali minta bantuan ke saya jadi dia sering nraktir, walau cuman es dan makanan ringan lainnya sih. Lumayanlah, karena di SMK ini saya jarang sekali dikasih uang jajan oleh Ibu saya. Selain itu ada juga Bibi yang jualan di kantin yang menganggap saya ini sudah seperti Adik nya, jadi setiap kali saya mampir ke warungnya dan saya beli sesuatu baik itu mie atau jajan pasti nggak boleh bayar, eh enak kan.

Saat SMK saya merupakan type orang paling cuek, salah satu yang membuat saya terkenal adalah kecuekan saya, dan ketidak pedulian saya dengan pandangan orang lain. Yaps waktu itu saya merupakan siswa paling sederhana di sekolah, jika semua teman-teman saya nggak mau sekolah kalau nggak pake motor saya kebalikannya. Saya tidak peduli dengan apa yang saya naiki, bahkan walau harus berjalan pun its oke guys.  tidak perlu minder hehe.

Dan Alhamdulillah di SMK ini saya selalu mendapatkan peringkat 1 saat kelas 1 dan kelas 2, tapi kemudian bergeser menjadi peringkat 2 saat kelulusan. Tapi Alhamdulillah lah bisa mendapatkan peringkat, lagian peringkat juga nggak terlalu penting kalau akhirnya nggak bisa melakukan apa-apa dan nggak bisa bermanfaat. Terima Kasih

Penutupan

Ya sudah mungkin itu saja pengalaman yang bisa saya tuliskan, itu perjalanan singkatnya saja sih, karena jumlah kata-katanya sudah hampir 2000 kata, jadi saya akhiri artikel mengenai pengalaman saya dari SD hingga SMK, semoga ada manfaat yang bisa dipetik. Dan mohon maaf apabila ada salah kata, atau kisah yang tidak patut untuk diceritakan, atau beberapa kisah yang lebih mirip dengan curahan hati hehe.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Reza Ichsani

... Secangkir kopi tidak pernah mengajarkan kejahatan, dia hanya memberikan rasa pahit dan manis, serta sedikit efek samping ...

Leave a Reply

Tutup
%d bloggers like this: