Cerita Perjalanan Menuju Pesantren Badrussalam Sintesa Magetan
sumber : pixabay.com

Cerita Perjalanan Menuju Pesantren Badrussalam Sintesa Magetan

Pesantren Badrussalam Sintesa – Assalamu’alaikum wr, wb. Sebelum saya menuliskan cerita saat hendak ke Pesantren Sintesa, pertama kali saya akan mengenalkan diri saya terlebih dahulu kepada pembaca sekalian. Perkenalkan sobat nama saya adalah Muhammad Reza Ichsani, lahir di Kota Jember, besar juga disana. “Cerita Perjalanan Menuju Pesantren Badrussalam Sintesa Magetan” Judul postingan ini merupakan judul postingan pertama kali yang saya buat saat awal pertama belajar di Pesantren Sintesa ini.

Sebelumnya masih belum ada tugas untuk menulis artikel sih, cuman melihat teman-teman saya sudah banyak yang nulis artikel pertama kalinya jadi saya juga ingin ngikutin gituh. Itung – itung sekalian sambil ngasah kemampuan menulis sebelum materi dimulai, biar nanti kalau ada tugas menulis nggak kaget.

Ngomong-ngomong sobat pembaca sudah tau belum nih apa itu Pesantren Sintesa?. Pesantren Sintesa merupakan sebuah pesantren yang bisa dibilang sangat berbeda dengan segala jenis Pesantren yang ada di Indonesia, atau mungkin juga berbeda dengan pesantren yang ada di seluruh dunia. Jika pada pesantren lainnya mungkin memiliki kurikulum pembelajaran yang fokus pada pendidikan ilmu fiqh, nahwu dan shorof dan lainnya. Nah di Pesantren Sintesa ini justru fokus utamanya adalah Menghafal Al-Qur’an dan bagaimana caranya setelah selesai pendidikan dari Sintesa ini sudah bisa mandiri dan berpenghasilan. Weeh enak kan, keluar dari Pesantren sudah nggak bingung mau cari kerja dimana, karena setiap santri sudah dibekali dengan tips dan trik mencari uang selama masa belajar.

Di Sintesa ini dalam satu tahun membuka dua kali pendaftaran, baik itu putri maupun putra. Dan hanya menampung beberapa santri yang layak diperjuangkan saja untuk bisa di terima belajar disini. Santri di Sintesa ini juga unik-unik, karena berasal dari berbagai daerah yang berbeda dari Seluruh Pelosok Negeri. Nah bagi sobat yang ingin belajar di Pesantren ini bisa mendaftar di bulan Agustus depan atau Februari tahun depan. Karena pendaftaran hanya di buka pada bulan Februari dan Agustus dan dengan kapasitas terbatas. Nah karena disini saya hanya akan menuliskan pengalaman saya saat hendak belajar hingga saat pembelajaran di Sintesa, maka saya hanya akan mengulas tentang Sintesa sedikit saja, untuk lebih detail sobat bisa memahami apa itu Sintesa di website resminya disini.

Kenal Pesantren Sintesa dari Mana?

Awal mula saya kenal nama Sintesa adalah ketika saat saya menempuh pembelajaran di sebuah Yayasan Yatim Mandiri di Surabaya. Yaitu disebuah kampus yang memiliki nama Kampus Kemandirian (MEC). Saya pertama kali mendengar kata Sintesa itu dari dosen saya di sana bernama Pak Arif. Dia menceritakan kakak kelas saya di Yatim Mandiri yang bernama Mas Arya, bahwasanya Mas Arya waktu itu sedang belajar di Pesantren Sintesa ini. Nah dari situlah saya mengenal Sintesa, walaupun saya masih nggak paham, pesantren jenis apakah Sintesa ini. Dan itupun berlalu hingga saya sudah lulus dari Yayasan tersebut.

Apa Yang Membuat Ingin Saya Masuk Sintesa?

masjid pesantren sintesa
Masjid Qatar Charity – Pesantren Sintesa

Setelah saya lulus dari Yayasan Yatim Mandiri, dan sudah bekerja beberapa bulan, kemudian dosen saya yang bernama Pak Arif tersebut menghubungi saya, menyarankan saya untuk belajar di Sintesa. Beliau menerangkan apa saja yang akan dipelajari disana, keuntungan apa saja yang akan didapat dan penjelasan lainnya yang membuat saya tertarik untuk belajar di Pesantren yang saya huni sekarang ini. Namun karena beberapa hal, saya tidak bisa mengikuti pendaftaran yang sedang dibuka oleh Sintesa. Karena beberapa alasan, salah satunya adalah waktu itu saya adalah sebagai tulang punggung keluarga di keluarga saya. Karena Kakak-kakak saya adalah perempuan semua dan saya adalah laki-laki tertua di keluarga setelah Ayah saya meninggal, akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan pendaftaran terlebih dahulu hingga 2 tahun lamanya.

Setelah setahun berlalu kemudian saya pindah kerja di Malang yang awalnya di Surabaya. Di Malang saya bekerja bisa dibilang sebagai serabutan sih, pasalnya disana kerjanya saya kadang bikin website, kadang nulis artikel, kadang nganterin rental motor kadang juga maen, eh enak ya :v. Kebetulan perusahaan yang saya tinggali waktu itu memiliki empat kandidat alias pemimpin, dan salah satu pemimpinnya sudah paham apa itu Sintesa dan juga sudah kenal dengan kakak kelas saya di Yatim Mandiri yang sudah pernah belajar di Sintesa (Mas Arya). Karena beliau paham apa itu Sintesa, kemudian beliaun membicarakan dengan saya, kalau bulan Agustus nanti saya akan di bantu untuk belajar di Sintesa. Awal mula saya seneng sekali, karena itulah cita-cita saya. Namun ada syaratnya, jika saya nanti sudah selesai pembelajaran dari Sintesa maka saya harus kembali ke Perusahaan tersebut untuk membantu lagi disana. Tentunya ini membuat saya berfikir dua kali, karena tujuan saya setelah dari Sintesa adalah pulang kerumah, bisa bareng kumpul-kumpul bareng Ibu dan Adik saya. Akhirnya karena agak kurang nyaman saya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Sintesa.

Dengan persetujuan Ibu, akhirnya saya diizinkan untuk belajar disana, walau sebelumnya saya sebagai penunjang keuangan keluarga, namun Ibu saya yakin rezeki sudah di atur oleh Allah selama kita bersyukur dan mau berusaha. Awalnya saya agak dilema, jadi ke Sintesa apa ndak. Namun karena Ibu, Kakak dan Adik saya begitu yakin dan melebihi keyakinan saya, akhirnya saya pun juga nekat berangkat ke Pesantren ini hehe.

Pendaftaran, Pengumuman dan Penerimaan Calon Santri Sintesa

Kebetulan waktu itu saya mendaftar pada pendaftaran santri baru yang dibuka pada bulan Januari tanggal 1 hingga akhir bulan januari dan pengumuman di umumkan pada bulan februari tanggal 5. Ada beberapa teman saya dari yatim mandiri yang juga mendaftar, kalau nggak salah dari Yayasan Yatim Mandiri pada pendaftaran ini ada beberapa orang pendaftar walau nggak di terima semuanya sih. Namun Alhamdulillah banyak juga yang keterima, baik ikhwan maupun akhwat. Pendaftaran ini adalah pendafataran angkatan ke 9. Dan diangkatan kesembilan inilah juga ada program baru, yakni Akademi Sintesa Putra dan Putri. Jadi kalau awalnya nggak ada santri putrinya diangkatan saya ada santri putrinya, walau nggak pernah ketemu sih dengan santri putrinya karena memang dipisah dan saya pun nggak tau tempatnya dimana.

Selama pendaftaran dibuka, saya jadi rajin banget nih, mulai dari sholat jama’ah di masjid, ngaji one day one juz dan juga sholat malam dan dhuhanya ngebut banget :v. Hingaa pada akhirnya pengumuman di terbitkan dan ada nama saya disana, kerajinan saya kembali mengendor, tapi Alhamdulillah setelah sampai di Pesantren kembali di gembleng lagi. Kebetulan pengumumannya waktu itu tepat tanggal 5 februari dan santri yang masuk dalam kategori Calon Santri diwajibkan untuk datang ke Pesantren paling akhir tanggal 15 Februari 2019, jadi ada celah waktu 10 hari untuk persiapan.

Waktu itu ketika saya mengetahui kalau sudah diterima, walau statusnya masih calon sudah sangat senang sekali, begitupula dengan Ibu saya yang sangat senang dengan diterimanya saya untuk berkesempatan belajar. Namun ada hal lain yang juga tidak kalah membingungkan yaitu harus memiliki laptop dan bekal lainnya. Karena sebelumnya saya sudah nganggur kurang lebih 3 bulanan, jadi uang simpenan saya bener-bener habis, dan saya nggak tau harus beli laptop dari mana. Hampir saja saya menggagalkan untuk belajar di Pesantren ini, saat saya sudah mulai menyerah, justru Ibu saya malah memarahi saya, kata Ibu saya saya itu laki-laki yang cemen, karena baru dihadapkan dengan masalah kecil seperti ini saja sudah menyerah duluan dan nggak mau berfikir lebih dewasa. Dari situ saya malu sekali mendengar Ibu bicara seperti itu. Kata Ibu saya  laki-laki itu harus kuat berfikir, harus bisa mencari solusi dengan baik jangan mudah menyerah dan tidak boleh cemen. Jujur saja saya sangat malu waktu itu di bilang gitu oleh Ibu saya. Waktu itu malah Ibu saya yang memikirkan segala kebutuhan saya, saya malah mau nyerah saja. Akhirnya Ibu saya memutuskan untuk mengambil uang tabungannya dan menjual kambingnya untuk membeli laptop saya dan kebutuhan saya saat belajar disini.

Nah karena sudah begitu besar pengorbanan Ibu saya untuk memperjuangkan saya, maka dari itulah saya harus bersungguh-sungguh dalam belajar disini.

Perjalanan Menuju Pesantren Sintesa (Jember, Surabaya – Magetan)

masuk sintesa
sumber : pixabay.com

Setelah semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah di siapkan, saya juga sudah siap-siap berangkat. Namun sejujurnya saya inginnya berangkat dari Kota saya Jember pada tanggal 14 dan sampe disini paling akhir ya tanggal 15 itu. Tetapi karena teman saya di Surabaya ngajakin bareng berangkat, jadi saya berangkat dari rumah tanggal 12 Februari, rencananya setelah dari Surabaya nanti ke Sragen dulu. Tapi saat saya ketemuan dengan teman saya di Asrama Yatim Mandiri, eh malah berangkatnya tanggal 14, kalau tau nggak jadi berangkat ke Sragen mah saya mending dirumah dulu, masih rindu soalnya dengan Ibu, adik dan kakak saya wkwkw. Rindu disini bukan berarti saya ngalem ya, ya namanya juga keluarga.

Tepanya tanggal 14 kami berangkat dari Surabaya bareng temen saya si Dicky, kami boncengan dan selama perjalanan saya terus dibonceng hehe. Walaupun saya dibonceng saja, justru saya malah tersiksa, soalnya saya waktu itu menggendong tas carrier yang biasa saya gunakan untuk mendaki. Kebayang kan membawa tas carrier yang menggantung di punggung selama berjam-jam diatas motor. Selama perjalanan kami juga beberapa kali berhenti, baik itu karena istirahat juga karena beberapa hal yaitu hujan.

Perjalanan dari Surabaya ke Magetan kami tempuh dari pukul 9 pagi hingga sampai di Pesantren setelah sholat ashar. Sebelum sampai di Pesantren kami berdua bingung, ini dimana pesantrennya, sampe nyasar ke Sintesa Highschool juga hingga akhirnya ketemulah Pesantren yang dinanti-nanti, Pesantren Badrussalam Sintesa. Masyarakat disini lebih banyak yang mengenali pesantren kami dengan Pondok Badrussalam, jadi saat kami bertanya Pesantren Sintesa agak kesulitan.

Setelah sampai di Pesantren kami langsung mencari tempat untuk perlengkapan kami, siap-siap juga. Dan selanjutnya setelah berada disini kami cuman ngikutin saja apa-apa yang dilakukan senior alias angkatan 8. Karena selama 2 pekan setelah sampai disini kami nggak ngapa-ngapain, cuman diem, duduk, melamun, sambil ngikutin kegiatan kakak senior saja. Hingga aktif mulai dari 1 pekan lalu.

Penutup

Nah itulah sedikit cerita mengenai perjalanan saya saat hendak ke Pesantren Sintesa, semoga bisa bermanfaat. Dan bagi sobat sekalian yang mungkin saja tertarik untuk belajar di Sintesa ini, bisa langsung dengan mengunjungi website resminya di sintesa(dot)net. Terima Kasih Wassalamu’alaikum wr wb.

Rasanya penutupannya kurang sedikit berkesan ya :v

 

Reza Ichsani

... Secangkir kopi tidak pernah mengajarkan kejahatan, dia hanya memberikan rasa pahit dan manis, serta sedikit efek samping ...

Leave a Reply

Tutup
%d bloggers like this: